Pengantar Pendidikan
ASAS, LANDASAN DAN PILAR PENDIDIKAN

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
PENGANTAR
PENDIDIKAN
Dosen
Pengampu : Adeng Hudaya, S.Si,M.Pd
Disusun Oleh :
Nina Marliana 202114570031
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN EKONOMI FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN SOSIAL
UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI
2021
KATA
PENGANTAR
Syukur
alhamdulillah, merupakan satu kata yang sangat pantas penulis ucakan kepada
Allah STW, yang karena bimbingannyalah maka penulis bisa menyelesaikan sebuah
makalah yang berjudul "ASAS, LANDASAN DAN PILAR PENDIDIKAN"
Makalah
ini dibuat dengan berbagai observasi di beberapa reverensi dan waktu tertentu
sehingga menghasilkan karya yang bisa dipertanggung jawabkan hasilnya. Saya mengucapkan terima kasih
kepada pihak terkait yang telah membantu saya dalam menghadapi berbagai
tantangan dalam penyusunan makalah ini.
Saya
menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini.
Oleh karna itu saya mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang
bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini.
Terima
kasih, dan semoga makalah ini bisa memberikan sumbangsih positif bagi kita
semua
Bogor, Oktober 2021
Penyusun
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL
......................................................................................
KATA
PENGANTAR
....................................................................................
DAFTAR
ISI
...................................................................................................
BAB
I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
.....................................................................................
B. Rumusan Masalah
................................................................................
C. Tujuan Penulisan
..................................................................................
BAB
II PEMBAHASAN
A. Asas
pendidikan....................................................................................
B. Landasan pendidikan............................................................................
C. Pilar
pendidikan....................................................................................
BAB
III PENUTUP
A. Kesimpulan
...........................................................................................
DAFTAR
PUSTAKA
.....................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Sebelum pola
pikir manusia berkembang
pesat, terutama pemahaman filosofis terhadap kehidupan alamiah manusia
serta berbagai pandangan tentang alam jagat raya ini. Menurut kodratnya,
manusia adalah makhluk yang selalu ingin tahu terhadap seluruh kehidupan yang
dijalaninya. Manusia juga mempunyai rasa ingin tahu terhadap rahasia alam,
mencoba menjawab dengan menggunakan pengamatan dan penggunaan pengalaman,
tetapi hal itu sering tidak terjawab secara memuaskan. Sehingga dalam hal ini
timbul pengetahuan baru yang muncul dari kombinasi antara pengalaman dan kepercayaan.
Secara
sederhana perkembangan rasa ingin tahu ini dimulai dengan pertanyaan what “apa”
tentang sesuatu kemudian dilanjutkan dengan how kemudian why. Pengetahuan yang
diperoleh dari alam semesta ini selanjutnya merupakan dasar dai perkembangan
ilmu pengetahuan alam. Semua pengetahuan dapat diturunkan dari satu generasi ke
generasi selanjutnya. Ilmu ini terus berkembang sejalan dengan sifat manusia
yang selalu ingin tahu, terutama tentang benda yang ada disekelilingnya, alam
jagad raya, bahkan dirinya sendiri. Hal tersebut mendorong manusia untuk
memahami serta menjelaskan gejala-gejala yang terjadi dan dorongan rasa ingin
tahu manusia tersebut membuat mereka mencari jalan keluar dari setiap apa yang
terjadi.
Pola pikir manusia dalam beberapa hal tidak terlepas
dari simbol dan idiom-idiom budaya yang dimitoskan. Pemanfaatan simbol dan
idiom cenderung dijadikan sebagai pengikat atau keterkaitan batiniah seseorang
dengan nenek moyang sebagai salah satu pembentukan jati diri bangsa yang
merupakan kekayaan budaya yang efektif untuk dipakai sebagai pelajaran terutama
yang berkaitan dengan nilai moral.
Manusia
merupakan makhluk yang paling sempurna di antara makhluk ciptaan Tuhan yang
lain. Yang menjadikan alasan manusia adalah makhluk yang paling sempurna diantara
makhluk lainnya karena manusia mempunyai akal dan pikiran. Itulah yang
membedakan kita sebagai manusia berbeda dengan makhluk penghuni bumi yang lain.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan asas asas
pendidikan?
2. Apa saja landasan pendidikan?
3. Apa saja pilar pilar pendidikan?
C. Tujuan penulisan
1. Mengetahui asas asas pendidikan
2. Mengetahui landasan pendidikan
3. Mengetahui pilar pilar pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Asas-asas pendidikan
Asas-asas
pendidikan merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan
berpikir, baik pada tahap perancangan mauupun pelaksanaan pendidikan.
Indonesia, terdapat beberapa asas pendidikan yang memberi arah dalam merancang
dan melaksanakan pendidikan itu. Diantar asas tersebut adalah asas Tut Wuri
Handayani, Asas belajar sepanjang hayat, dan asas kemandirian dalam belajar.
1. Asas Tut Wuri Handayani
Sebagai
asas pertama, tut wuri handayani merupakan inti dari sistem among perguruan.
Asas yang di kumandangkan oleh ki hajar
dwantara ini kemudian dikembangkan oleh Drs. R.M.P sostrokartono dengan
menambahkan dua semboyan lagi, yaitu ing ngarso sung sung tulodo dan ing madyo
mangun karso.
Kini
ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asas yaitu:
· Ing ngarso sung tulodo (jika didepan
memberi contoh)
· Ing madyo mangun karso (jika
ditengah-tengah memberi dukungan dan semangat)
· Tut Wuri Handayani (jika di belakang
memberi dorongan)
2. Asas Belajar Sepanjang Hayat
Asas
belajar sepanjang hayat (life long learning) merupakan sudut pandang dari sisi
lain terhadap pendidikan seumur hidup (life long education). Kurikulum yang
dapat merancang dan diimplementasikan dengan memperhatikan dua dimensi yaitu dimensi
vertikal dan horizontal.
· Dimensii Vertikal dari kurikulum
sekolah meliputi keterkaitan dan kesinambungan antar tingkatan persekolahan dan
keterkaitan dengan kehidupan peserta didik di masa depan.
· Dimensi Horizontal dari kurikulum
sekolah yaitu keterkaitan antara pengalaman belajar di luar sekolah.
3. Asas Kemandirian Dalam Belajar
Dalam
kegiatan belajar mengajar, sedini mungkin dikembangkan kemandirian dalam
belajar itu dengan menghindari campur tangan guru, namun guru selalu siap untuk
ulur tangan bila diperlukan.
Perwujudan
asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalam peran utama sebagai
fasilitator dan motifator. Salah satu pendekatan yang memberikan peluang dalam
melatih kemandirian belajar peserta didik adalah sistem CBSA (Cara Belajar
Siswa Aktif).
B. Landasan-landasan pendidikan
1. Landasan Filosofis
a. Pengertian landasan filosofis
Landasan
filosofis berasal dari pandangan-pandangan dalam filsafat pendidikan,
menyangkut keyakinan terhadap hakikat manusia, keyakinan tentang sumber nilai,
hakikat kemanusiaan, dan kehidupan tentang yang lebih baik. Aliran filsafat
yang kita kenal saat ini adalah idialisme, realisme, perenialisme,
esensialisme, pragmatisme, progrivisisme dan ektensialisme.
1.
Esensialisme
Esensialisme
adalah mashab pendidikan yang mengutamakan pelajaran teorik (liberal arts) atau
bahan ajar esensial.
2. Perenialisme
Perenialisme
adalah aliran pendidikan yang mengutamakan bahan ajaran konstan (perenial)
yakni kebenaran, keindahan, cinta kepada kebaikan uneversal.
3. Pragmatisme dan progresifme
Pragmatisme
adalah aliran filsafat yang memandang segala sesuatu dari nilai kegunaan
praktis, di bidang pendidikan, aliran ini melahirkan progresivisme yang
menentang pendidikan tradisional.
4. Rekontruksionisme
Rekonstruksionisme
adalah mazhab filsafat pendidikan yang menempatkan sekolah/lembaga pendidikan
sebagai pelopor perubahan masyarakat.
b. Pancasila sebagai lendasan filosofis
sistem pendidikan nasional
Pasal
2 UU RI No.2 tahun 1989 menetapkan bahwa pendidikan nasional berdasarkan
pancasila dan UUD 1945. Sedangkan ketetapan MPR RI No. II/MPR/1978 tentang P4
menegaskan pula bahwa pancasila adalah jiwa seluruh rakyat indonesia,
kepribadian bangsa indonesia, pandangan hidup bangsa indonesia, dan dasar
negara indonesia.
2. Landasan Sosiologis
Dasar
sosiologis berkenaan dengan perkembangan, kebutuhan dan karakteristik
masyarakat. Sosiologi pendidikan merupakan analisi ilmiah tentang proses sosial
dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan.
3. Landasan kultural
Kebudayaan
dan pendidikan mempunyai hubungan timbal balik, sebab kebudayaan dapat
dilestarikan/dikembangkan dengan jalur mewariskan kebudayaan dari generasi
penerus dengan jalan pendidikan, baik secara formal maupun informal.
4. Landasan
psikologis
Dasar
psikologis berkaitan dengan prinsi-pinsip belajar dan perkembangan anak.
Pemahaman tarhadap peserta didik, utamanya yang berkaitan dengan aspek kejiwaan
merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan.
Sebagai
implikasinya pendidik tidak mungkin memperlakukan sama kepada setiap peserta
didik, sekalipun mereka memiliki kesamaan. Penyusunan kurikulum perlu
berhati-berhati dalam menetukan jenjang pengalaman belajar yang akan dijadikan
garis-garis besar pengajaran serta tingkat kerincian bahan belajar yang
digariskan.
5. Landasan ilmiah dan teknologis
Kebutuhan
pendidikan yang mendesak cenderung memaksa tenaga pendidik untuk mengadopsinya
teknologi dari berbagai bidang teknologi ke dalam penyelenggaraan pendidikan.
Pendidikan yang berkaitan erat dengan proses penyaluran pengetahuan haruslah
mendapat perhatian yag proporsional dalam bahan ajaran, dengan demikian
pendidikan bukan hanya berperan dalam pewarisan IPTEK tetapi juga ikut
menyiapkan manusia yang sadar IPTEK dan calon pakar IPTEK itu. Selanjuntnya
pendidikan akan dapat mewujudkan fungsinya dalam pelestarian dan pengemabangan
iptek tersebut.
C. Pilar-pilar pendidikan
Ada
enam pilar pendidikan yang direkomendasikan UNESCO yang dapat digunakan sebagai
prinsip pembelajaran yang bisa diterapkan di dunia pendidikan.
1.
Learning to Know
Learning
to know bukan sebatas mengetahui dan memiliki materi informasi
sebanyak-banyaknya, menyimpan dan mengingat selama-lamanya dengan setepat-tepatnya,
sesuai dengan petunjuk’petunjuk yang telah diberikan, namun juga kemampuan
dalam memahami makna di balik materi ajar yang telah diterimanya. Dengan
learning to know, kemampuan menangkap peluang untuk melakukan pendekatan ilmiah
diharapkan bisa berkembang yang tidak hanya melalui logika empirisme semata,
tetapi juga secara transendental, yaitu kemampuan mengaitkannya dengan
nilai-nilai spiritual.
2.
Learning to Do
Learning
to do merupakan konsekuensi dari learning to know. Kelemahan model pendidikan
dan pengajaran yang selama ini berjalan adalah mengajarkan “omong” (baca:
teori), dan kurang menuntun orang untuk “berbuat” (praktek). Semangat retorika
lebih besar dari action. Yang dimaksud learn¬ing to do bukanlah kemampuan
berbuat mekanis dan pertukangan tanpa pemikiran. Dengan demikian, peserta didik
akan terus belajar bagaimana memperbaiki dan menumbuhkembangkan kerja, juga
bagai¬mana mengembangkan teori atau konsep intelektualitasnya.
3.
Learning to Be
Melengkapi
learning to know dan learning to do, Robinson Crussoe berpendapat bahwa manusia
itu hidup sendiri tanpa kerja sama atau saling tergantung dengan manusia lain.
Manusia di era sekarang ini bisa hanyut ditelan masa jika tidak berpegang teguh
pada jati dirinya. Learning to be akan menuntun peserta didik menjadi ilmuwan
sehingga mampu menggali dan menentukan nilai kehidupannya sendiri dalam hidup
bermasyarakat sebagai hasil belajarnya.
4.
Learning to Live Together
Learning
to live together ini merupakan kelanjutan yang tidak dapat dielakkan dari
ketiga poin di atas. Oleh karena itu, premis ini menuntut seseorang untuk hidup
bermasyarakat dan menjadi educated person yang bermanfaat baik bagi diri dan
masyarakatnya maupun bagi seluruh umat manusia.
5.
Learning How to Learn
Sekolah
boleh saja selesai, tetapi belajar tidak boleh berhenti. Pepatah, “Satu masalah
terjawab, seribu masalah menunggu untuk dijawab”, seakan sudab menjadi hal yang
tidak bisa dihindarkan dalam kehidupan yang serba modern ini. Oleh karena itu,
Learning How to Leam akan membawa peserta didik pada kemampuan untuk dapat
mengembangkan strategi dan kiat belajar yang lebih independen, kreatif,
inovatif, efektif, efisien, dan penuh percaya diri, karena masyarakat baru
adalah learning society atau knowledge society. Orang-orang yang mampu
menduduki posisi sosial yang tinggi dan penting ada¬lah mereka yang mampu
belajar lebih lanjut.
6.
Learning Throughout Learn
Perubahan
dan perkembangan kehidupan berjalan terus menerus yang semakin keras dan rumit.
Oleh karena itu, tidak ada jalan lain kecuali harus belajar terus menerus
sepanjang hayat. Learning Throughout Life ini menuntun dan memberi pencerahan
pada peserta didik bahwa ilmu bukanlah hasil buatan manusia, tetapi merupakan
hasil temuan atau hasil pencarian manusia. Karena ilmu adalah ilmu Tuhan yang
tidak terbatas dan harus dicari, maka upaya mencarinya juga tidak mengenal kata
berhenti.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Asas-asas
pendidikan merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan
berpikir, baik pada tahap perancangan mauupun pelaksanaan pendidikan. Landasan
filosofis berasal dari pandangan-pandanga dalam filsafat pendidika, menyangkut
keyakinan terhadap hakikat manusia, keyakinan tentang sumber nilai, hakikat
kemanusiaan, dan kehidupan tentang yang lebih baik. Ada enam pilar pendidikan
yang direkomendasikan UNESCO yang dapat digunakan sebagai prinsip pembelajaran
yang bisa diterapkan di dunia pendidikan.Learning to Know, Learning to Do,
Learning to Be, Learning to Live Together, Learning How to Learn, Learning
Throughout Learn.
BAB IV
DAFTAR
PUSTAKA
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjM--uHh-DzAhVb63MBHV2GB7gQFnoECBoQAQ&url=https%3A%2F%2Fmedia.neliti.com%2Fmedia%2Fpublications%2F56566-ID-none.pdf&usg=AOvVaw3BNd0BjKCjxkuGVJagEI20
Komentar
Posting Komentar