Tugas Pengantar Pendidikan Tokoh-tokoh Pendidikan, Nama : Nina Marliana NPM : 202114570031

Assalammu'alaykum warrahmatullahi Wabarakatuh, 
Berikut artikel mengenai Tokoh-tokoh Pendidikan dunia ( Bar at, Timur Tengah Dan Indonesia). Guna memenuhi tugas dari Mata Kuliah Pengantar Pendidikan. Atas nama :
Nama : Nina Marliana
NPM : 202114570031


Ki Hadjar Dewantara


Sekilas Perjalanan Hidup Ki Hadjar Dewantara
Lahir dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, Ki Hadjar Dewantara terlahir
dalam keluarga kraton Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889 dan wafat pada tanggal 26 April 1959. Sebagai golongan ningrat, Ki Hadjar Dewantara memperoleh hak untuk mengeyam pendidikan yang layak dari kolonial Belanda. Setelah menamatkan ELS (Sekolah Dasar Belanda), beliau meneruskan pelajarannya ke STOVIA (Sekolah Dasar Bumiputera), sayang sekali karena sakit ia tidak dapat meneruskan pendidikannya di STOVIA.
Pada tanggal 3 Juli 1922 beliau mendirikan Perguruan Taman Siswa dan sampai saat wafatnya terus memimpin perguruan tersebut. Taman Siswa merupakan sebuah perguruan yang bercorak nasional yang menekankan rasa kebangsaan dan cinta tanah air serta semangat berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Perjuangan Ki Hadjar Dewantoro tak hanya melalui Taman Siswa, sebagai penulis, Ki Hadjar Dewantara tetap
produktif menulis untuk bebagai surat kabar. Tulisan Ki Hadjar Dewantoro berisi konsepkonsep pendidikan dan kebudayaan yang berwawasan kebangsaan, dan melalui konsepkonsep itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Konstruktivisme dalam Pemikiran Ki Hadjar Dewantara
Membaca tulisan-tulisan Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan, teringat pada pendekatan konstruktivisme dalam pendidikan. Keduanya sama-sama menekankan bahwa titik berat proses belajar mengajar terletak pada murid. Pengajar berperan sebagai fasilitator atau instruktur yang membantu murid mengkonstruksi konseptualisasi dan solusi dari masalah yang dihadapi. Jadi pembelajaran yang optimal adalah pembelajaran yang berpusat pada murid (student center learning).
Konstruktivisme yang sudah besar pengaruhnya sejak periode 1930-an dan 1940-an di Amerika, juga di Eropa, secara langsung atau tidak langsung dasar-dasarnya pernah dipelajari oleh Ki Hadjar Dewantara. Dasar pertama dari pendekatan konstruktivisme dalam pendidikan adalah “teori konvergensi” yang menyatakan bahwa “pengetahuan manusia merupakan hasil interaksi dari faktor bawaan (nature) dan faktor pengasuhan (nurture). Menurutnya, baik “dasar” (faktor bawaan) maupun “ajar” (pendidikan) berperan dalam pembentukan watak seseorang.
Dari Teori Konvergensi ke Sistem Merdeka
Dalam penerapannya di bidang pendidikan, oleh Ki Hadjar teori konvergensi diturunkan menjadi sistem pendidikan yang memerdekakan siswa atau yang disebutnya “system merdeka”.
Ki Hadjar menunjukkan bahwa pendidikan diselenggarakan dengan tujuan membantu siswa menjadi manusia yang merdeka dan mandiri, serta mampu memberi konstribusi kepada masyarakatnya. Menjadi manusia merdeka berarti :
 (a) tidak hidup terperintah;
 (b) berdiri tegak karena kekuatan sendiri; dan 
 (c) cakap mengatur hidupnya dengan tertib.
Singkatnya, pendidikan menjadikan orang mudah diatur tetapi tidak dapat disetir. Pandangan konstruktivisme tentang pendidikan sejalan dengan pandangan Ki Hadjar Dewantara yang menekankan pentingnya siswa menyadari alasan dan tujuan ia belajar. Ki Hadjar mengartikan mendidik sebagai “berdaya upaya dengan sengaja untuk memajukan hidup tumbuhnya budi pekerti dan badan anak dengan jalan pengajaran, teladan dan pembiasaan”
Ki Hadjar dan konstruktivisme sama-sama memandang pengajar sebagai mitra siswa untuk menemukan pengetahuan. Mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke murid melainkan kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Pengajar ikut aktif bersama siswa dalam membentuk pengetahuan, mencipta makna, mencari kejelasan, bersikap kritis dan memberikan penilaian-penilaian terhadap berbagai hal. Mengajar dalam konteks ini adalah membantu siswa untuk berpikir secara kritis, sistematis dan logis dengan membiarkan mereka berpikir sendiri.
Sejalan dengan itu, Ki Hadjar Dewantara memakai semboyan “Tut Wuri Hanadayani” (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya  mangun karsa (di tengah atau di antara murid, pendidik harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada ( di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik). Semboyan ini masih tetap dipakai hingga kini dalam dunia pendidikan dan terutama di sekolah-sekolah Taman Siswa.
Analisis Kritis
Menurut Ki Hajar Dewantoro, manusia memilki daya cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitik beratkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual saja hanya akan mejauhkan peserta didik dari masyarakatnya.
Ternyata pendidikan sampai sekarang ini hanya menekankan pada pengembangan daya cipta, dan kurang memperhatikan pengembangan olah rasa dan karsa. Jika ini berlanjut akan menjadikan manusia kurang humanis atau manusiawi. Implementasi Dalam Dunia Pendidikan
Perjuangan Ki Hajar Dewantoro terhadap pendidikan Indonesia membuat beliau layak di anugerahi gelar pahlawan pendidikan Indonesia.
Tidak berlebihan jika tanggal lahir beliau, 2 Mei diperingati sebagai hari Pendidikan Nasional untuk mengenang dan sebagai penyemangat bagi kita untuk meneruskan prakarsa dan pemikiran-pemikiran beliau terhadap pendidikan Indonesia.
Ki Hajar Dewantara mempunyai semboyan tut wuri handayani, ing madya mangun karsa dan ing ngarsa sung tulada. Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan.
Pendidikan yang humanis menekankan pentingnya pelestarian eksistensi manusia, dalam arti membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya sebagai manusia yang utuh berkembang ( menurut Ki Hajar Dewantara menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif). Singkatnya, “educate the head, the heart, and the hand. 


AL-GHAZALI

A.Riwayat Hidup Al-Ghazali 
Nama lengkap Al-Ghazali adalah Muhammad bin Muhammad, mendapat gelar Imam besar Abu Hamid Hujjatul Islam yang dilahirkan pada tahun 450 H/ 1085 M, di suatu kampung Ghazalah, Thusia, suatu kota di Khurasan, Persia. Ia keturanan Persia dan mempunyai hubungan keluarga dengan raja-raja saljuk yang memerintah daerah Khurasan, Jibal, Irak, Persia, dan Ahwaj. Ayahnya seorang miskin yang jujur, hidup dari usaha mandiri, bertenun kain bulu dan ia sering kali mengunjungi rumah 'Alim ulama, menuntut ilmu dan berbuat jasa kepada mereka. Ayah Al-Ghazali sering berdo'a kepada Allah agar diberikan anak yang pandai dan berilmu. Akan tetapi belum sempat menyaksikan (menikmati) jawaban Allah atas do'anya, ia meninggal dunia pada saat putera idamannya masih usia anak-anak (Zainuddin:1991:7). Al-Ghazali mempunyai seorang adik yang bernama Ahmad, keduanya menjadi ulama besar dan pengagum serta pecinta ilmu. Berkat bantuan seorang sufi sederhana dengan sedikit harta yang diwariskan oleh orang tuannya, Al-Ghazali dan saudaranya memasuki Madrasah Tingkat Dasar (Madrasah Ibtidaiyah) dengan memahami ilmu-ilmu dasar. Gurunya yang utama di madrasah itu adalah Yusuf Al-Nassaj, seorang sufi yang kemudian disebut juga dengan nama Imam Al-Haramain, Al-Nassajlah yang pertama kali meletakan dasar-dasar pemikiran sufi pada diri Al-Ghazali (Bahri Ghazali, 2001:24). Al-Ghazali mempelajari ilmu fiqih, mantiq, dan ushul. Ia pun mempelajari antara lain : filsafat dari risalah-risalah ikhwanusshofa karangan Al-Farabi dan Ibnu Maskawaih, sehingga melalui ajaran-ajaran ahli filsafat itu, Al-Ghazali dapat menyelami faham-faham Aristoteles dan pemikir Yunani yang lain. Ia pun mempelajari ajaaran Islam dari imam Syafi'i, Haramlah, Jambad, Al-Muhasibi, dan lain-lain. Al-Ghazalipun berguru pada imam Abu Ali Al-Faramzi, murid Al-Qusyairi yang terkenal dan shabat Al-Subkhi, ia memiliki jasa yang besar dalam mengajar ilmu tasawuf pada Al-Ghazali. Suatu ketika, Al-Ghazali ikut serta dalam perdebatan dengan sekumpulan ulama dan para intelek yang dihadiri oleh Nidham AlMulk. Berkat penguasaan himat wawasan ilmu yang luas, kelancaran berbahasa dan kekuatan argumentasinya. Al-Ghazali berhasil memenangkan perbedaan ilmiah itu. Kemampuannya itu dikagumi Nizham Al-Mulk, sehingga menteri ini berjanji akan mengangkatnya menjadi guru pada sekolah yang didirikannya di Baghdad. Rangkaian peristiwa yang bersejarah bagi Al-Ghazali ini tejadi pada tahun 484 H, atau 1091 M (Fathiyah Hasan Sulaiman, 1993:10). 17 Pada usia 33 tahun, Al-Ghazali diangkat menjadi Profesor pada Universitas Nizhamiyah di Baghadad, dan ia memperoleh suatu kedudukan yang tinggi dalam dunia ilmu pengetahuan pada masanya. Nizhamul Mulk makin tertarik dengan kemampuan Al-Ghazali, maka diundangnya Al-Ghazali supaya pindah ke Mu'askar, tempat kediaman perdana menteri itu dan tempat tinggal pembesar-pembesar Negara serta ulama dalam bagian ilmu. Al-Ghazali dikenal sebagai tokoh yang agung, mudah mpunyai martabat tinggi dan populer, di samping setiap ucapan dan tulisannya mudah disimak, bahkan pada zamannya tidak ada yang menandinginya. Namun kemasyhuran yang diperolehnya itu ditinggalkan begitu saja oleh Al-Ghazali. Ia keluar dari lingkaran Nazahmiyah menuju Baitullah di Mekkah untuk menunaikan ibadah haji tepatnya tahun 448 H (Hasan Asari, 1999:21). Sepulang dari Mekkah, Al-Ghazali menuju Damaskus, di sana ia berkontemplasi di menara Barat, di sebuah mesjid jami' bahkan menetap disana pula. Keadaan ini berlangsung selama sepuluh tahun sejak pindah ke Damsyik. Dalam masa ini ia menuliskan buku-buku yang dikenal diantaranya Ihya 'Ulum Al-Din. Karena desakan penguasa yaitu Muhammad, saudara Barkijaruk Al-Ghazali mau kembali mengajar di sekolah Nizhamiyah di Naisabur pada tahun 499 H, tetapi pekerjaan ini hanya berlangsung dua tahun. Akhirnya ia kembali ke kota Thus lagi. Di sana ia mendirikan sebuah sekolah untuk para fuqaha dan sebuah biara untuk para Mutawassifin. Di kota itu pula ia meninggal dunia pada tahun 505 H / 111 M/ dalam usia 54 tahun (M. Solihin, 2001:22).
 B. KARYA-KARYA AL-GHAZALI 
Dalam muqaddimah kitab "Ihya 'Ulum Al-Din. Badawi Thabana, menulis hasil-hasil karya Al-Ghazali yang berjumlah 47 kitab, Zainudin (1991:19), telah menyusunya menurut kelompok ilmu pengetahuan sebagai berikut : 
a. Kelompok filsafat dan Ilmu Kalam, yang meliputi : 
1) Maqashid al-Falasifah (tujuan para filosof) 
2) Tahaful al- Falasafah (kerancuan para filosof)
 3) Al-Iqtishad al-I'tiqad (moderasi dalam aqidah).
 4) Al-Munqidz min al-Dhalal (pembebas dari kesesatan). 18
 5) Al-Maqashidul asna fii m'aani asmaaillah al-Husna (arti nama tuhan yang Hasan). 
6) Faishalut tafriqoh bainal Islam wa al-zindiqah (perbedaan antara Islam dan zindiq).
 7) Al-Qishasul Mustaqiin (jalan untuk mengatasi perselisihan pendapat).
 8) Al-Mustadhiri (penjelasan-penjelasan) 
9) Hujaitul Haq (argument yang benar).
10) Mufsilul khilaf fi ushuluddin (memisahkan perselisihan danal ushuluddin)
11) Al-Muntahal fi'ilmi jidal (tata cara dalam ilmu diskusi).
 12) Al-Madhnun bin'Ala ghairi ahlihi (persangkaan pada bukan ahlinya). 
13) Mahkum nadhlar (metodologika). 
14) Asraar"Ilmi al-ddin (rahasia ilmu agama). 
15) Al-Arba'in fi ushuluddin (40 masalah ushuluddin). 
16) Iljam al-awam 'an al-ilmil al-kalam (menghalangi orang awam dari ilmu kalam).
 17) Al-Qulu al-jamil fi ar-ar-Raddi 'ala man ghayar al-Injil (kata yang baik untuk orangorang yang mengubah injil).
18) Mi'yaaru al-'Ilmi (timbangan ilmu). 
19) Al-Intishar al-lam (rahasia-rahasia alam). 
20) Isbatun Nadhlar (pemantapan logika)
b. Kelompok Ilmu Fiqih dan Ushul Fiqih yang meliputi
 1) Al-BBasith (pembalasan yang mendalam).
 2) Al-Wasith (perantara).
 3) Al-Wajiz (surat-surat wasiat).
 4) Khulashatu al-Mukhtashar (intisari ringkasan karangan). 
5) Al-Mustasufa (pilihan).
 6) Al-Mankhul (adat kebiasaan). 
7) Syifahul 'Aah fi al-Qiyas wa at-Ta'liil (penyembuh yang baik dalam qiyas dan ta'alil). 
8) Adz-Dzari'ah ila Makaarim asy-Syari'ah (jalan kepada kemuliaan syari'ah).

c. Kelompok ilmu akhlak dan tasawuf, yang meliputi : 
1) Ilya 'Ulum al-Ddin (menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama).
 2) Mizan al-Amal (timbangan amal). 
3) Kimiyaa as-Sa'aadah (kandungan kebahagian).
 4) Misykaat al-Anwar (relung-relung cahaya). 
5) Minhaaj al-Abidin (pedoman beribadah).
 6) Ad-Dharar al-Fakhirah fi kasyfi 'ulum al-Khirah (mutiara penyikap akhirat)
 7) Al-Layyini fi al-Wahdah ( lembut-lembut dalam kesatuan )
 8) Al-Qurabah 'Azza Wazalla (mendekatkan diri kepada Allah) 19
 9) Ahlu Al-abrar wa An-Najaat min Al-Asraar (ahklak yang lurus dan menyelamatkan dari keburukan) 
10) Bidaayat Al-Hidayah (permulana mencapai petunjuk) 
11) Al-Mabadi wa Al-Ghaayah (permulaan dan tujuan). 
12) Talbis Al-Iblis (tipu daya syaithan)
 13) Nasihat Al-Mulk (nasihat untuk raja-raja)
 14) Al-'Uhum Al-Laduniyyah (ilmu-ilmu ladunia)
 15) Al-Risalah Al-Qudsyih (risalah suci)
 16) Al-Makhadz (tempat pengambilan) 
17) Al-Amali (kemuliaan)

 d. Kelompok ilmu Tafsir, yang meliputi : 
1) Yaquu at-Ta'wil fi tafsir at-Tanzil (metodologi ta'wil di dalam tafsir yang diturunkan).
2) Jawaahir al-Qur'an (rahasia yang terkandung dalam al-Qur'an). 


E. KONSEP PENDIDIKAN MENURUT ALGHAZALI 
Untuk mengetahui konsep pendidikan Al-Ghazali dapat diketahui antara lain dengan cara mengetahui dan memahami yang berkenaan dengan berbagai aspek yang berkaitan dengan pendidkan, yaitu aspek tujuan pendidikan, kurikulum, metode, etika guru, dan etika murid berikut ini.
 1. Tujuan Pendidikan Al-Ghazali berkata: “hasil dari ilmu sesungguhnya ialah mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan semesta alam, dan menghubungkan diri dengan para malaikat yang tinggi dan bergaul dengan alam arwah, itu semua adalah kebesaran, pengaruh, pemerintahan bagi raja-raja dan penghormatan secara naluri.” Selanjutnya dari kata-kata berikut dapat diartikan bahwa tujuan pendidikan menurut AlGhazali dapat dibagi menjadi dua bagian, tujujan jangka panjang dan tujuna jangka pendek. 20 A. Tujuan Jangka Panjang Tujuan pendidikan jangk panjang ialah pendekatan diri kepada Allah. Pendidikan dalam prosesnya harus mengarahkan manusia menuju pengenalan dan kemudian pendekatan diri kepada Tuhan pencipta alam. Selajutnya Al-Ghazali mengutip sebuah hadis sebagai berikut. ”barang siapa menambah ilmu (keduniawian) tetapi tidak menambah hidayah, ia tidak semakin dekat dengan Allah, dan justru semakin jauh dari-Nya.” (H.R. Dailami daRI Ali) Menurut konsep ini, dapat dinyatakan bahwa semakin lama seseorang duduk dibangku pendidikan, semakin bertambah ilmu pengetahuannya, maka semakin mendekat kepada Allah. Tentu saja, untuk menentukan itu tujuan itu bukanlah sistem pendidikan sekular yamg memisahkan antara ilmu-illmu keduniaan dari nilai-nilai kebenaran dan sikap religius, juga bukan sistem islam yang konservatif. Tetapi, sistem pendidikan yang integral. Sistem inilah yang dapat membentuk manusia melaksanakan tugas-tugas kekhalifahan. 
B. Tujuan Jangka Pendek Menurut Al-Ghazali, tujuan pendidikan jangka pendek ialah diraihnya profesi manusia sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Selanjutnya Al-Ghazali juga menyinggung masalah pangkat, kedudukan, kemegahan, popularitas, dan kemulian dunia secara naluri. Semua itu bukan merupakan tujuan dasar seseorang yang melibatkan diri di dunia pendidikan. Seorang penuntut ilmu, seorang yang terdaptar sebagai siswa, mahasiswa, dosen, guru dan sebagainya, mereka akan memperoleh derajat, pangkat, dan segala macam kemulian hendak meningkatkan kualutas dirinya melalui ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan itu untuk diamalkan. Karena itulah, Al-Ghajali bahwa langkah seseorang dalam belajar adalah untuk mensucikan jiwa dari kerendahan budi dan sifat-sifat tercela, dan motivasi pertama adalah untuk menghidupkan syariat dan misi Rasulallah, bukan untuk mencari kemegahan duniawi, mengejar pangkat, atau popularitas. Dari pemaparan diatas dapatlah disimpulkan bahwa tujuan pendidika menurut AL-Ghazali adalah. Pertama, tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara kepada pendekatan diri kepada Allah, dan kedua, kesempurnaan insani yang bermuara kepada kebahagian dunia dan akhirat. 21 2. Konsep Kurikulum Konsep kurikulum yang dikemukan oleh Al-Ghazali terkait erat dengan konsep mengenai ilmu pengetahuan. Dalam Pandangan Al-Ghazali ilmu terbagi kepada tiga bagian, sebagai berikut:
A. Ilmu-ilmu yng terkutuk baik sedikit maupun banyak, yaitu ilmu-ilmu yang tidak ada manfaatnya, baik di dunia maupun di akhirat, seperti ilmu ilmu sihir, ilmu nujum dan ilmu ramala. 
B. Ilmu-ilmu yang terpuji baik sedikit maupun banyak, yaitu ilmu-ilmu yang erat hubungannya dengan peribadatan dan macam-macamnya, seperti ilmu yang berkaitan dengan kebersihan diri dari cacat dan dosa serta ilmu-ilmu yang dapat menjadi bekal bagi seseorang untuk mengetahui yang baik dan melaksanakannya,ilmu-ilmu yang mengajarkan manusia tentang cara-cara mendekatkan diri kepada Allah dan melakukan sesuatu yang diridhai-Nya, serta dapat membekalinya hidup diakhirat. 
C. Ilmu-ilmu terpuji dalam kadar tertentu, atau sedikit, dan tercela jika dipelajarinya secara mendalam, karena dengan mempelajarinya secara mendalam dapat menyebabkan terjadinya kekacauan dan kesemarutan antara keyakinan dan keraguan serta dapat pula membawa kepada kekafiran, seperti ilmu filsafat. 
Dalam penyusuna kurikulum pelajaran didasarkan pada dua kecenderungan sebagai berikut.
a) Kecenderungan agama dan tasawuf. Yang artinya menempatkan ilmu-ilmu agama di atas segalanya, dan memandangnya sebagai alat untuk mensucikan diri dan membersihkannya dari pengaruh kehidupan dunia. 
b) Kecenderungan pragmatis. Yang artinya penilaian terhadap ilmu berdasarkan manfaatnya bagi manusia, baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat.
3. Metode Pengajaran Perhatian Al-Ghazali terhadap metode pengajaran lebih dikhususkan bagi pengajaran pendidikan agama untuk anak-anak. Untuk ini ia telah mencontohkan suatu metode keteladanan bagi mental anak-anak, pembinaan budi pekerti, dan penanaman sifat-sifat keutamaan pada diri mereka. Selanjutnya, sebagaimana yang dikatakan oleh Abidin (1998: 97) bahwa ”metode pengajaran menurut Al-Ghazali dapat dibabgi menjadi dua bagian antara pendidikan agama dan pendidkan akhlak”. 22 Metodik pendidikan agama menurut Al-Ghazali, pada prinsipnya dimulai dengan hapalan dan pemahaman, kemudian dilanjutkan dengan keyakinan dan pembenaran, setelah itu penegakan dalil-dalil dan keterengan-keterangan yang menguatkan akidah. Selanjutnya Sulaiman (1993: 61) ”Al-Ghazali berpendapat bahwa pendidikan agama harus mulai diajarkan kepada anak-anak sedini mungkin. Sebab yang demikian lantaran dalam tahun-tahun tersebut, seorang anak mempunyai persiapan menerima kepercayaan agama sematamata dengan mengimankan saja dan tidak di tuntut untuk mencari dalilnya”. Semenara itu berkaitan dengan pendidikan akhlak, bahwa pengajran harus mengarah kepada pembentukan akhlak yang mulia. Sehingga Al-Ghazali mengatakan bahwa ”ahklak adalah suatu sikap yang mengakar di dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan”. Selanjutnya, menurut Zaenudin (1990: 75), prisip metodologi pendidikan modern selalu menunjukan aspek berganda. Suatu aspek menunjukan proses anak belajar dan aspek lainnya menunjukan aspek guru mengajar dan mendidik.
A.Asas-asas metode belajar 
a) Memusatkan perhatian sepenuhnya 
b) Mengetahui tujuan ilmu pengetahuan yang akan dipelajari 
c) Mempelajari ilmu pengetahuan dari yang sederhana menuju yang komplek
 d) Mempelajari ilmu pengetahuan dengan sistimatika pembehasan 

B. Asas-asas metode mengajar 
a) Memperhatikan tingkat daya pikir anak
 b) Menerangkan pewlajaran dengan cara yang sejelas-jelasnya 
c) Mengajarkan ilmu pengetahuan dari yanag konkrit kepada yang abstrak
 d) Mengajarkan ilmu pengetahuan dengan berangsur-angsur 

C. Asas metode mendidik
 a) Memberikan latihan-latihan 
b) Memberikan pengertian dan nasihat-nsihat 
c) Melindungi anak dari pergaulan yang buruk 

4. Kriteria Guru yang Baik Al-Ghazali tidak pernah menggunakan istilah-istilah guru dan murid dalam arti keahlian dan akademis yang tegas. Menurut pendapatnya, Guru atau ulama adalah seseorang yang 23 memberikan apapun yang bagus, positif, kreatif atau bersifat membangun kepada manusia yang sangat menginginkan, di dalam tingkat kehidupan yang manapun, dengan jalan apapun, dengan cara apapun, tanpa mengharapkan balasan uang kontan setimpal apapun, (Shafique Ali Khan, 2005: 62). Al-Ghazali secara terinci telah menetapkan syarat-syarat guru dan juga tugasnya dalam Ihya 'Ulum Al-Din, Moh Zuhri (2003: 171: 181) merinci persyaratan tersebut sebagai berikut :
 a. Guru harus belas kasih kepada orang-orang yang belajar dan memperlakukan mereka seperti memperlakukan anak-anaknya. Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya saya bagimu adalah seperti orang tua kepada anaknya". (H.R. Abu Dawud, An-Nasa'i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban) (Al-Ghazali 1:171)
 b. Guru harus mengikuti pemilik syara' (Nabi) SAW. Ia tidak meminta upah karena memberikan ilmu, dan tidak bermaksud balasan dan terima kasih dengannya. Tetapi ia mengajar karena mencari keridhaan Alla Ta'ala dan mencari pendekatan diri kepada-Nya (Al-Ghazali 1:172)
 c. Guru tidak boleh meninggalkan sedikitpun dari nasihat-nasihat guru(Al-Ghazali 1:174).
 d. Guru harus mencegah murid-muridnya dari akhlak yang buruk dengan jalan sindiran, sedapat mungkin dengan terang-terangan, dengan jalan kasing sayang, tidak dengan jalan membukakan rahasia. Karena terang-terangan itu termasuk tirai kewibawaan dan menyebabkan berani menyerang karena perbedaan pendapat, dan menggerakan kelobaan untuk terus-menerus (Al-Ghazali 1:175). 
e. Guru harus menghormati ilmu-ilmu yang dimiliki orang lain, di luar pengetahuannya dan keahliannya di kalangan muridnya. (Al-Ghazali 1:176).
 f. Guru harus mengukur kemampuan muridnya, sehingga memberikan ilmu itu sesuai dengan kadar kemampuan murid, dan pemahamannya. (Al-Ghazali 1:177). 
g. Guru seyogyanya menyampaikan kepada murid yang pendek (akal) akan sesuatu yang jelas dan patut baginya, dan ia tidak menyebutkan kepadanya bahwa di balik ini ada sesuatu yang ditilai dimana ia menyimpannya dari padanya (Al-Ghazali 1:179).
 h. Guru harus mengamalkan ilmunya. Janganlah ia mendustakan perkataanya karena ilmu itu diperoleh dengan pandangan hati sedangkan pengamalan itu diperoleh dengan pandangan mata. Padahal pemilik pandangan mata itu lebih banyak (AlGhazali 1:180). 24 Al-Ghazali berpendapat bahwa bahwa pada prinsipnya guru yang sempurna akalnya dan terpuji akhlaknya layak diberi amanat mengajar anak-anak atau peserta didik. 
Guru wajib memiliki sifat-sifat yang khusus. Menurutnya guru harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
 a) Rasa kasih sayang dan simpatik ; Al-Ghazali memberi nasihat kepada guru untuk berlaku sebagai seorang ayah terhadap anaknya, bahkan ia berpendapat bahwa hak seorang guru itu lebih besar ketimbang seorang ayah terhadap anaknya.
 b) Tulus Ikhlas; Al-Ghazali berpendapat bahwa guru itu tidak layak menuntut honorarium sebagai jasa tugas mengajar dan tidak patut menunggu-nunggu pujian, ucapan terima kasih atau balas jasa dari muridnya. 
c) Jujur dan terpecaya; Seorang guru seyogyanya menjadi seorang penunjuk terpercaya dan jujur terhadap muridnya. Sebagai penunjuk (penasehat) yang terpercaya, maka guru tidak membiarkan muridnya memulai pelajaran yang tinggi sebelum menyelesaikan pelajaran sebelumnya. Ia selalu mengingatkan pada muridnya bahwa tujuan akhir belajar ialah tqarrub kepada Allah, bukan bermegah diri atau mengejar pangkat dan kedudukan. 
d) Lemah lembut dalam memberi nasihat; Al-Ghazali memberi nasihat kepada guru supaya tidak berlaku kasar terhadap murid dalam mendidik tingkah laku. 
e) Berlapang dada; Al-Ghazali mengatakan, " Seorang guru tidak pantas mencela ilmu-ilmu yang berada diluar tanggung jawabnya dihadapan murid-muridnya. Seperti pada umumnya guru bahasa mencela ilmu fiqih menghina ilmu hadits dan tafsir "
f) Memperlihatkan perbedaan individu; kata Al-Ghazali; "Guru hendaknya membatasi murid kepada kecerdasan pemahamannya. Karena itu tidak boleh memberikan pelajaran yang tidak mampu dicapai oleh kemampuan akalnya, yang menyebabkan ia menjauhinya dan memerosotkan daya pikirnya. 
g) Mengajar tuntas; tidak pelit terhadap ilmu, Al-Ghazali menganjurkan:"Hendaknya seorang guru menyampaikan kepada muridnya yang kurang cerdas ilmu pengetahuan secara jelas dan tuntas sesuai dengan umur muridnya. Tidak perlu dikemukakan kepadanya panjelasan bahwa di balik ilmu yang telah diberikan itu masih terdapat ilmu yang sangat pelik lagi rumit yang masih tersimpan didadanya. Yang demikian ini akan melemahkan semangatnya, menambah kebingungan, dan menimbulkan perasaan bahwa gurunya itu kikir dalam memberikan ilmu kepadanya".
 h) Mempunyai idealisme; Al-Ghazali membuat perumpamaan: "Perumpamaan guru dengan murid adalah bagaikan ukiran dengan tanah liat dan bayang-bayang dengan sepotong kayu, maka bagaimanakah tanah liat itu bisa terukir indah, padahal ia material yang tidak sedia diukir dan bagaimana pula bayang-bayang itu menjadi lurus padahal kayu yang bersinar itu bengkok" (Fatiyah Hasan, 1964:49-56). 25 5. Sifat Murid yang Baik Selanjutnya Al-Ghazali mengemukakan kriteria murid yang baik dalam kitab Ihya 'Ulum Al-Din, Abuddinata, (2003, 99-101). 
a) Seorang murid harus berjiwa bersih 
b) Seorang murid yang baik jugaharus menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat duniawi 
c) Seorang murid hendaknya mempunyai sifat rendah hati atau tawadhu
 d) Bagi murid yang baru jangan mempelajari ilmuyang bertentangan
 e) Seorang murid yang hendaknya mepelajari yang wajib 
f) Seorang murid yang baik hendaknya mempelajri ilmu secara sistimatis 
g) Seorang murid hendaknya tidak mempelajari satu disiplin ilmu saja
 h) Seorang murin hendaknya juga mengenal nilai-nilai ilmu yang dipelajarinya ANALISIS Rumusan tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah bagian dari pembahasan filsafat atau pemeikiran yang mendalam tentang pendidikan. 
Menurut Al-Ghazali tujuan akhlir dari pendidikan itu adalah tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara pada pendketan diri kepada Allah serta kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagian dunia dan akhirat. Ini sesuai dengan apa yang di sampaikan oleh Atiyah Al-Abrasi yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah:
1. Pembinaan akhlak
 2. Menyiapkan anak didik untuk hidup bahagia di dunia dan akhirat
 3. Penguasaan keilmuan 
4. Keterampilan bekerja dalam masyarakat Selanjutnya klau kita lihat dari tujuan pendidikan nasional yang teretera dalam USPN BAB II pasal 3 yang menyebutkan bahwa tujuan pendidikan Nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,berakhlak mulia, sehat, berilmu , cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dari beberapa pendapat diatas tentang tujuan pendidikan, ternyata tujuan pendidikan Al-Ghazali adalh merupakan konsep tujuan pendidikan yang sempurna sehingga kalau lita lihat dengan tujuna pendidiakan Nasional ada sebuah kesamaan yaitu bentuk ketakwaan kepada Tuhan serta pengembangan potensi manusia menuju manusia yang sempurna, sehingga secara konseptual hal tersebut bisa dijadikan salahsatu dasar pemikiran bagi tujuan pendidikan di Indonesia. 26 Paparan konsep kurikulum menurut Al-Ghazali lebih cenderung kepada terhadap konsap mengenai ilmu pengetahuan.Dari coark pemikiran Al-Ghazali tentang kurikulum dapat disimpulkan bahwa dalam bidang kurikulum AL-Ghazali cenderung terhadap dua hal yaitu, pertama, kecenderungan agama dan tasawuf yang terlihat dari ketika Al-Ghazali menempatkan ilmu-ilmu agama di atas segalanya, sebagai alat mensucikan diri dan dunia. Dengan kecenderungan ini, maka Al-Ghazali mementingkan pendidikan etika yang erat kaitannya dengan agama. Kedua, kecenderungan pragmatis yang terlihat dari setiap pemaparnnya tentang ilmu akan ada kata yang menyangkut terhadap manpaat dari mempelajari tentang ilmu tersebut. Sehingga pada hal ini Al-Ghazali dapat digolongkan kepada seseorang yang menganut paham pragmatis teologis. Dan teori dari Al-Ghazali terlihat berjalan secara sinergis dengan kerangka pembentukan kurikulum Nasional yang menyebutkan bahwa peningkatan iman dan takwa menjadi kerangka pertama dalam pengembangan kurikulum. Sehingga kalu kita teliti lebih mendalam akan terlihat bahwa konsep kurikulum menurut Al-Ghazali tertanan dalam nilai-nilai pengembangan kurikulum Nasional. Metode pengajaran menurut Al-Ghazali adalah salah satu metode pengajaran yang ideal, ini terlihat ketika Al-Ghazali mampu menunjukan asas mendidik, asas mengajar, dan asas belajar. Dalam asas belajar Al-Ghazali menyarankan agar konsentrasi dalam belajar, mengetahui tujuan pembelajaran, dan belajara secara sistimatis. Konsentrasi adalah memusatkan perhatian sehingga akan lebih fokus terhadap apa yang sedang di pelajari, pengetahuan terhadap apa yang akan dipelajari dapat memicu motivasi siswa dalam belajar. Sisitimatis adalah pembelajaran yang terencana dan teratur dengan baik, sehingga anak didikmampu belajar mulai dari yang termudah menuju yang sukar. Selanjutnya dalam asas mengajar adalah memperhatikan tingkat daya pikir anak, menerangkan pelajaran dengan sejelas mungkin, dan mengajarkan ilmu pengetahuan dari yang konkrit menuju yang abtrak. Adapun mengenai konsep Al-Ghazali menjadikan guru sebagai profesi yang mulia dan mempunyai derajat yang tinggi duihadapan Tuhannya. Suatu konsep yang ideal tentang guru, dimana Al-Ghazali mampu mengugkapkan ciri-ciri guru yang baik, atau bhasa profesi disebut sebagai guru yang profesional, sehingga kalau diurutkan akan sesuai dengan kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yaitu kompetensi akademik, kompetensi propesional, kompetensi sosil, dan kompetensi kepribadian. Konsep guru menurut Al-Ghazalia adalah konsep guru yang sebenarnya. Sehingga kalau kita lihat di alam nyata guru-guru banyak yang belum mempunyai sifat dan ciri guru yang sebenarnya. Akan tetapi ada satu yang menjadi krtidak setujuan penulis, dimana Al-Ghazali menyebutkan bahwa seorang guru tidak boleh menerima upah dari hasil mengajar. Hal ini juga ditentang oleh salahsatu tokoh pendidikan (Ibnu Khaldun) yang mengatakan bahwa pendidikan adalah pabrik, sementara itu murid adalah produk, sehingga guru 27 adalah pekerja yang membuat pruduk tersebut, maka guru berhak menerima upah dari hasil mengajarnya. Salahsatu ciri dari pendidikan Al-Ghazali adalah kecenderungan terhadap pendidikan akhlak, sehingga sngatlah menjadi perhatian dari pemikiran Al-Ghazali tentang peserta didik yang akan menjadiakn mereka lebih terarahkan dalam proses pembelajaran. Hal ini juga menjadi salahsatu bentuk yang menjadikan Al-Ghazali terkenal dengan pendidikan anak. Maka melalui kitab yang pundamental menjadikan kontribusi bagi perkembangan pendidikan, khususnya pendidikan di Indonesia SIMPULAN Dari hasil analisis terhadap konsep pendidikan menurut Al-Ghazali dapat disimpilkan bahwa secara filosofis konsep ini adalah merupakan konsep yang ideal, yang menekankan pada aspek-aspek religius sebagai dasar pengembangan potensi manusia (peserta didik) tentunya suatu konsep yang dapat diterapkan dalam proses pendidikan di Indonesia. Secara kontektual negara kita didominasi oleh penduduk yang beragama Islam, tentunya mereka membutuhkan sebuah konsep pendidikan yang mampu mengembangkan nilai-nilai spiritual, intelektual dan emosional. Maka konsep pendidikan menurut Al-Ghazali bisa dijadikan sebagai salah satu konsep dasar pendidikan di Indonesia. 



JEAN PIAGET      
Jean Piaget, seorang psikolog dan pendidik berkebangsaan Swiss, terkenal karena teori pembelajaran berdasarkan tahap yang berbeda-beda dalam perkembangan intelegensi anak. Jean Piaget lahir pada 9 Agustus 1896 di Neuchatel, Swiss. Ia adalah anak seorang sejarawan. Masa kanak-kanak Jean Piaget banyak dipengaruhi oleh apa yang ia lihat pada ayahnya, seorang pria yang berdedikasi pada penelitian dan pekerjaannya. Karenanya, sejak kanak-kanak dia sangat suka belajar, terutama dalam hal ilmu pengetahuan alam. Saat dia berumur sebelas tahun, tulisannya tentang burung gereja "albino` (memiliki kulit yang benar-benar pucat atau terang) yang langka, diterbitka yang pertama dari ratusan artikel dan lebih dari lima puluh buku. Beberapa kali, saat memberikan karyanya untuk diterbitkan dalam berbagai redaksi majalah, Piaget dipaksa untuk merahasiakan usianya yang masih muda. Banyak editor menganggap penulis muda tidak memiliki kredibilitas. Apa yang dilakukannya untuk membantu mengategorikan koleksi museum zoologi Neuchatel, menginspirasi penelitiannya terhadap kerang-kerangan. Salah satu artikelnya, yang ia tulis saat berumur lima belas tahun, membuatnya ditawari sebuah pekerjaan di museum zoologi di Jenewa, Swiss; ia menolak tawaran itu untuk melanjutkan pendidikannya. Ia menyelesaikan pendidikan ilmu pengetahuan alam di Universitas.
Neuchatel pada 1916 dan mendapat gelar doktoral untuk penelitian atas kerang-kerangan pada 1918.
Ayah angkat Piaget mengenalkannya pada filsafat (penelusuran terhadap pengetahuan). Biologi (studi terhadap makhluk hidup) kemudian digabungkan dengan epistemologi (studi pengetahuan), keduanya mendasari teori pembelajarannya di kemudian hari. Bekerja di dua laboratorium psikologi di Zurich, Swiss, membuatnya mengenal psikoanalisis (studi proses kejiwaan). Di Paris, tepatnya di Soborne, ia mempelajari psikologi abnormal (studi penyakit jiwa), logika, dan epistemologi. Dan pada 1920, dengan Théodore Simon di Laboratorium Binet, ia mengembangkan tes pemikiran yang telah distandarisasi (tes universal). Setelah tahun 1921, Jean menjadi direktur penelitian, asisten direktur, dan kemudian wakil direktur di Jean Jacques Rousseau Institute (Institut Jean Jacques Rousseau), yang kemudian menjadi bagian Geneva University (Universitas Jenewa), di mana ia menjadi profesor sejarah dalam bidang pemikiran ilmiah (1929-1939). Dia juga mengajar di universitasuniversitas Paris, Lausanne dan Neuchatel. Dia menjadi ketua International Bureau of Education (Biro Pendidikan Internasional) dan duta United Nations Economic and Scientific Committee (UNESCO) Swiss. I. KARYA-KARYA JEAN PIAGET ( Piaget, J. (1950). Introduction à l’Épistémologie Génétique. Paris: Presses Universitaires de France. ( Piaget, J. (1961). La psychologie de l'intelligence. Paris: Armand Colin (1961, 1967, 1991). ( Piaget, J. (1967). Logique et Connaissance scientifique, Encyclopédie de la Pléiade. ( Inhelder, B. dan J. Piaget (1958). The Growth of Logical Thinking from Childhood to Adolescence. New York: Basic Books. ( Inhelder, B. dan Piaget, J. (1964). The Early Growth of Logic in the Child: Classification and Seriation. London: Routledge and Kegan Paul. 
Piaget, J. (1928). The Child's Conception of the World. London: Routledge and Kegan Paul. 
( Piaget, J. (1932). The Moral Judgment of the Child. London: Kegan Paul, Trench, Trubner and Co.
Piaget, J. (1952). The Child's Conception of Number. London: Routledge and Kegan
     Paul.
Piaget, J. (1953). The Origins of Intelligence in Children. London: Routledge and Kegan
     Paul.
Piaget, J. (1955). The Child's Construction of Reality. London: Routledge and Kegan
      Paul.
Piaget, J. (1971). Biology and Knowledge. Chicago: University of Chicago Press.
Piaget, J. (1995). Sociological Studies. London: Routledge.
Piaget, J. (2001). Studies in Reflecting Abstraction. Hove, UK: Psychology Press.
 Beth, E.W., dan Piaget, J. (1966). Mathematical Epistemology and Psychology.Dordrecht: D. Reidel.
Piaget, J. (1942). Les trois structures fondamentales de la vie psychique: rythme,
régulation et groupement. Rev. Suisse de Psychologie Appliquée, 1/2 9–21.
Piaget, J. (1948). Où va l’éducation? UNESCO.
 Piaget, J. (1951). Psychology of Intelligence. London: Routledge and Kegan Paul
Piaget, J. (1953). Logic and Psychology. Manchester: Manchester University Press
 Piaget, J. (1962). Play, Dreams and Imitation in Childhood. New York: Norton.
 Piaget, J. (1966). Nécessité et signification des recherches comparatives en psychologie génétique. Journal International de Psychologie, 1 (1): 3-13.
 Piaget, J. (1970). Structuralism. New York: Harper & Row.
Piaget, J. (1972). Psychology and Epistemology: Towards a Theory of Knowledge. Harmondsworth: Penguin.
Piaget, J. (1972). Insights and Illusions of Philosophy. London: Routledge and Kegan Paul.
Piaget, J. (1974). Experiments in Contradiction. Chicago: University of Chicago Press.
Piaget, J. (1974). The Place of the Sciences of Man in the System of Sciences. New York: Harper and Row, Publishers.
 Piaget, J. (1975). The Origin of the Idea of Chance in Children. London: Routledge and Kegan Paul.
Piaget, J. (1977). The Grasp of Consciousness. London: Routledge and Kegan Paul.
TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF PIAGET

Jean Piaget meneliti dan menulis subjek perkembangan kognitif ini dari tahun 1927 sampai 1980. Berbeda dengan para ahli-ahli psikologi sebelumnya, Piaget menyatakan bahwa cara berpikir anak bukan hanya kurang matang dibandingkan dengan orang dewasa karena kalah pengetahuan, tetapi juga berbeda secara kualitatif. Menurut penelitiannya juga bahwa tahaptahap perkembangan individu /pribadi serta perubahan umur sangat mempengaruhi kemampuan belajar individu. Jean Piaget menyebut bahwa struktur kognitif ini sebagai skemata (Schemas), yaitu kumpulan dari skema-skema. Seseorang individu dapat mengikat, memahami, dan memberikan respons terhadap stimulus disebabkan karena bekerjanya skemata ini. Skemata ini berkembang secara kronologis, sebagai hasil interaksi antara individu dengan lingkungannya. Dengan demikian seorang individu yang lebih dewasa memiliki struktur kognitif yang lebih lengkap dibandingkan ketika ia masih kecil. Piaget memakai istilah scheme dengan istilah struktur. Scheme adalah pola tingkah laku yang dapat diulang . Scheme berhubungan dengan : - Refleks-refleks pembawaan ; misalnya bernapas, makan, minum. - Scheme mental ; misalnya scheme of classification, scheme of operation. ( pola tingkah laku yang masih sukar diamati seperti sikap, pola tingkah laku yang dapat diamati) Jika schemas / skema / pola yang sudah dimiliki anak mampu menjelaskan hal-hal yang dirasakan anak dari lingkungannya, kondisi ini dinamakan keadaan ekuilibrium (equilibrium),

namu ketika anak menghadapi situasi baru yang tidak bisa dijelaskan dengan pola-pola yang ada, anak mengalami sensasi disekuilibrium (disequilibrium) yaitu kondisi yang tidak menyenangkan.
Sebagai contoh karena masih terbatasnya skema pada anak-anak : 
seorang anak yang baru pertama kali melihat buaya ia menyebutnya sebagai cecak besar, karena ia baru memiliki konsep cecak yang sering dilihat dirumahnya. Ia memiliki konsep cecak dalam skemanya dan ketika ia melihat buaya untuk pertama kalinya, konsep cecaklah yang paling dekat dengan stimulus.
Peristiwa ini pun bisa terjadi pada orang dewasa. Hal ini terjadi karena kurangnya
perbendaharaan kata atau dalam kehidupan sehari-harinya konsep tersebut jarang ditemui.
Misalnya : seringkali orang menyebut kuda laut itu sebagai singa laut, padahal kedua binatang itu jauh berbeda cara hidupnya, lingkungan kehidupan, maupun bentuk tubuhnya dengan kuda ataupun singa.
Asosiasi tersebut hanya berdasarkan sebagian bentuk tubuhnya yang hampir sama.
Perkembangan skemata ini berlangsung terus menerus melalui adaptasi dengan
lingkungannya. Skemata tersebut membentuk suatu pola penalaran tertentu dalam pikiran anak.
Makin baik kualitas skema ini, makin baik pulalah pola penalaran dan tingkat intelegensi anak itu.

Menurut Piaget, intelegensi itu sendiri terdiri dari tiga aspek,
1. Struktur ; disebut juga scheme seperti yang dikemukakan diatas
2. Isi ; disebut juga content, yaitu pola tingkah laku spesifik tatkala individu
menghadapi sesuatu masalah.
3. Fungsi ; disebut fungtion, yaitu yang berhubungan dengan cara seseorang
mencapai kemajuan intelektul.

Fungsi itu sendiri terdiri dari dua macam fungsi invariant, yaitu organisasi dan adaptasi.
- Organisasi ; berupa kecakapan seseorang dalam menyusun proses-proses fisik dan
psikis dalam bentuk system-sistem yang koheren.
- Adaptasi ; yaitu penyesuaian diri individu terhadap lingkungannya

Proses terjadinya adaptasi dari skemata yang telah terbentuk dengan stimulus baru dilakukan dengan dua cara, yaitu :
1. Asimilasi
Adalah proses pengintegrasian secara langsung stimulus baru ke dalam skemata yang telah terbentuk / proses penggunaan struktur atau kemampuan individu untuk mengatasi masalah dalam lingkungannya.

2. Akomodasi
Adalah proses pengintegrasian stimulus baru ke dalam skema yang telah terbentuk secara
tidak langsung/ proses perubahan respons individu terhadap stimuli lingkungan.
Dalam struktur kognitif setiap individu mesti ada keseimbangan antara asimilasi dengan
akomodasi. Keseimbangan ini dimaksudkan agar dapat mendeteksi persamaan dan perbedaan yang terdapat pada stimulus-stimulus yang dihadapi. 
Perkembangan kognitif ini pada dasarnya adalah perubahan dari keseimbangan yang dimiliki ke keseimbangan baru yang diperolehnya.

Dengan penjelasan diatas maka dapatlah kita ketahui tentang bagaimana terjadinya
pertumbuhan dan perkembangan intelektual.
Pertumbuhan intelektual terjadi karena adanya proses yang kontinu dari adanya equilibrium – disequilibrium. Bila individu dapat menjaga adanya equilibrium, individu akan dapat mencapai tingkat perkembangan intelektual yang lebih tinggi.

Piaget mengidentifikasi empat faktor yang mempengaruhi transisi tahap perkembangan anak, yaitu :
1. kematangan
2. pengalaman fisik / lingkungan
3. transmisi sosial
4. equilibrium
Selanjutnya Piaget mengemukakan tentang perkembangan kognitif yang dialami setiap
individu secara lebih rinci, mulai bayi hingga dewasa. Teori ini disusun berdasarkan studi klinis terhadap anak-anak dari berbagai usia golongan menengah di Swiss.

Berdasarkan hasil penelitiannya, Piaget mengemukakan ada empat tahap perkembangan
kognitif dari setiap individu yang berkembang secara kronologis :
a. tahap Sensori Motor : 0 – 2 tahun ;
b. tahap Pra Operasi : 2 – 7 tahun ;
c. tahap Operasi Konkrit : 7 – 11 tahun ;
d. tahap Operasi Formal : 11 keatas.
Sebaran umur pada seiap tahap ersebut adalah rata-rata (sekitar) dan mungkin pula terdapat perbedaan antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya, antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. Dan teori ini berdasarkan pada hasil penelitian di Negeri Swiss pada tahun 1950-an.


Daftar Pusaka

AL-Ghazali. (2003). Ihya ulumuddin. Asy Syfa, Semarang Abidin. (1998).
Pemikiran Al-Ghazali tentang pendiikan. Pustaka Pelajar, Jogyakarta
Baihaqi, MIF,(2007) Ensiklopedia Tokoh Pendidikan . Bandung: Nuansa Saduloh , Uyoh,(1993), 

Komentar